Kembali ke halaman studi kasus

Modernisasi Customer Operation Center (COC) PT Telkom [Tahun 2013]

Admin
Diterbitkan 1 September 2026
0 dilihat
0 dibagikan
Bagikan:
Modernisasi Customer Operation Center (COC) PT Telkom [Tahun 2013]

Pada tahun 2013, PT Tech Mayantara Asia (TMA) dipercaya oleh PT Telkom untuk melakukan migrasi dan modernisasi aplikasi Customer Operation Center (COC). Pada saat itu, COC merupakan salah satu aplikasi yang digunakan untuk mendukung aktivitas operasional Telkom dan memiliki kebutuhan akan performa serta ketersediaan yang tinggi.

Tantangan yang dihadapi cukup fundamental. Aplikasi COC sebelumnya dibangun menggunakan Apache sebagai web server, PHP tanpa framework pada application layer, serta Oracle sebagai database. Seiring meningkatnya kebutuhan penggunaan, performa aplikasi mulai menjadi persoalan. Aplikasi terasa lambat, sementara secara infrastruktur sebenarnya telah tersedia empat server yang bekerja dengan mekanisme Load Balancing.

Kondisi tersebut menjadi sebuah pembelajaran penting. Penambahan jumlah server ternyata belum otomatis menyelesaikan masalah performa. Bottleneck tidak hanya berada pada infrastruktur, tetapi juga pada bagaimana aplikasi dibangun dan bagaimana setiap komponen berkomunikasi satu sama lain.

TMA kemudian mengambil pendekatan yang berbeda. Alih-alih hanya menambah kapasitas server, TMA melakukan modernisasi terhadap application stack secara menyeluruh.

Prinsip utamanya sederhana: meningkatkan performa dengan memperbaiki arsitektur aplikasi, mengurangi proses yang tidak diperlukan dan meminimalkan akses ke database untuk kebutuhan data yang dapat dilayani dari cache.

Pada sisi antarmuka, TMA melakukan modernisasi menggunakan Ext JS dari Sencha. Pendekatan ini memungkinkan aplikasi memiliki user interface yang lebih dinamis dan interaktif dibandingkan pola aplikasi web konvensional yang digunakan sebelumnya.

Perubahan yang cukup signifikan kemudian dilakukan pada mekanisme komunikasi antara browser dan server. Setiap aktivitas tidak lagi selalu membutuhkan proses reload halaman secara keseluruhan. TMA menggunakan AJAX (Asynchronous JavaScript and XML) sehingga browser dapat melakukan request ke server secara asynchronous dan hanya mengambil data yang diperlukan.

Pendekatan ini membuat komunikasi client-server menjadi lebih efisien. Pengguna tidak harus menunggu seluruh halaman dimuat ulang setiap kali melakukan suatu aktivitas. Hanya bagian yang membutuhkan perubahan yang diproses dan diperbarui.

Pada sisi application layer, TMA memperkenalkan Zend Framework untuk menggantikan pendekatan PHP tanpa framework yang digunakan sebelumnya. Framework memberikan struktur aplikasi yang lebih terorganisasi, modular dan lebih mudah dipelihara.

Namun, modernisasi application layer saja belum cukup. TMA juga melihat pola interaksi aplikasi dengan database sebagai salah satu area yang perlu dioptimalkan.

Dalam aplikasi enterprise, tidak semua data harus selalu diambil langsung dari database. Terdapat jenis data tertentu yang berukuran besar, sering digunakan, tetapi relatif jarang berubah. Apabila setiap request pengguna tetap diteruskan ke database untuk mengambil data yang sama, database akan menerima beban yang sebenarnya dapat dihindari.

Untuk mengatasi hal tersebut, TMA menerapkan file-based caching.

Data-data berukuran besar dan relatif tidak berubah disimpan sementara dalam cache sehingga aplikasi dapat mengambilnya dari file cache tanpa harus melakukan koneksi dan query ke database Oracle pada setiap request.

Strategi ini memberikan dampak penting terhadap performa. Semakin banyak request yang dapat dilayani dari cache, semakin sedikit pekerjaan yang harus dilakukan oleh database. Database kemudian dapat lebih fokus menangani transaksi dan request yang memang membutuhkan data aktual.

Pada infrastructure layer, TMA juga melakukan perubahan dengan mengganti Apache Web Server dengan NGINX. NGINX dipilih sebagai web server yang lebih ringan dan efisien untuk mendukung arsitektur aplikasi yang telah dimodernisasi.

Dengan demikian, transformasi COC tidak dilakukan sebagai sekadar proses pemindahan aplikasi dari satu server ke server lain. TMA melakukan modernisasi pada berbagai lapisan, mulai dari user interface, komunikasi client-server, application framework, caching strategy, hingga web server.

Secara konseptual, arsitektur baru dapat digambarkan sebagai:

User → Sencha Ext JS → AJAX → NGINX → Zend Framework → File Cache → Oracle Database

Setiap komponen memiliki peran yang lebih jelas. User interface menangani interaksi pengguna, AJAX mengoptimalkan komunikasi client-server, NGINX menangani web request, Zend Framework mengelola proses aplikasi, cache melayani data yang dapat digunakan kembali, sedangkan Oracle tetap menjadi sumber data utama untuk informasi yang membutuhkan konsistensi dan aktualitas.

Pendekatan ini menghasilkan perubahan yang signifikan terhadap pengalaman penggunaan aplikasi. COC menjadi jauh lebih responsif dibandingkan platform sebelumnya. Beban akses ke database dapat dikurangi, sementara application layer memiliki struktur yang lebih baik untuk dikembangkan dan dipelihara.

Yang menarik dari proyek ini adalah bahwa peningkatan performa tidak semata-mata diperoleh melalui penambahan hardware. Sebelumnya, aplikasi telah berjalan di atas empat server dengan Load Balancing, namun persoalan performa masih dirasakan oleh pengguna.

TMA menunjukkan bahwa performance is an architecture problem, not only a hardware problem.

Dengan memahami pola penggunaan aplikasi dan menemukan titik-titik yang menjadi bottleneck, peningkatan performa dapat dicapai melalui perubahan arsitektur yang tepat.

Keberhasilan migrasi dan modernisasi COC mendapatkan apresiasi positif dari pihak Telkom. Proyek tersebut menjadi salah satu pengalaman penting TMA dalam menangani modernisasi aplikasi enterprise yang memiliki kebutuhan terhadap performa, reliability, dan scalability.

Bagi TMA, proyek COC juga memberikan sebuah pelajaran yang masih relevan hingga saat ini: teknologi bukan sekadar tentang menggunakan platform terbaru, tetapi tentang bagaimana teknologi tersebut digunakan untuk menyelesaikan persoalan nyata.

Dalam kasus COC, solusi terbaik bukanlah sekadar menambah server. Solusinya adalah memahami bagaimana aplikasi bekerja dari ujung ke ujung—bagaimana pengguna berinteraksi dengan sistem, bagaimana request diproses, bagaimana data ditransmisikan, bagaimana application layer bekerja, dan bagaimana database digunakan.

Dari sana, setiap bagian dapat dioptimalkan secara proporsional.

Lebih dari satu dekade kemudian, prinsip tersebut tetap menjadi bagian dari pendekatan TMA dalam mengerjakan proyek teknologi: memahami kebutuhan bisnis, memahami persoalan teknis, kemudian membangun solusi yang tepat dan terukur.

Modernisasi COC PT Telkom menjadi salah satu contoh awal perjalanan TMA dalam membantu organisasi besar melakukan transformasi aplikasi—bukan hanya dengan mengganti teknologi, tetapi dengan merancang teknologi agar bekerja lebih baik bagi manusia dan bisnis.

Technology evolves. The goal remains the same: making technology work better for people and business.