Kembali ke halaman studi kasus

Modernisasi SWS3 Settlement Wholesale Service Support System

Admin
Diterbitkan 10 September 2026
0 dilihat
0 dibagikan
Bagikan:
Modernisasi SWS3 Settlement Wholesale Service Support System

Pada Agustus 2026, PT Tech Mayantara Asia (TMA) mendapatkan kepercayaan untuk melakukan modernisasi dan migrasi aplikasi SWS3 (Settlement Wholesale Service Support System), sebuah aplikasi yang memiliki peran penting dalam proses settlement dan reporting data wholesale di lingkungan Telkom.

Proyek ini memiliki karakteristik yang berbeda dari migrasi aplikasi pada umumnya. Tantangannya bukan hanya bagaimana memindahkan aplikasi lama ke teknologi yang lebih modern, tetapi bagaimana melakukan perubahan teknologi secara signifikan dalam waktu yang sangat terbatas, tanpa mengganggu operasional yang sedang berjalan.

SWS3 merupakan aplikasi yang digunakan untuk mendukung proses settlement sekaligus menyediakan reporting data wholesale Telkom yang berasal dari berbagai sumber layanan, antara lain SOKI, Volume Compare, Global Partner, ITKP, Signaling, Call Center, dan Akrualisasi Manual.

Aplikasi tersebut telah digunakan dalam proses operasional sehingga keberadaannya bukan sekadar sebagai aplikasi pendukung, tetapi telah menjadi bagian dari proses kerja pengguna. Karena itu, setiap perubahan harus dilakukan dengan sangat hati-hati.

Di sisi lain, teknologi yang digunakan oleh aplikasi eksisting sudah cukup tertinggal. SWS3 dibangun menggunakan Zend Framework 1.12 dengan PHP versi 5, teknologi yang sudah tidak lagi ideal untuk menjadi fondasi aplikasi enterprise modern. Keterbatasan teknologi lama juga membuat aplikasi semakin sulit dikembangkan dan dipelihara dalam jangka panjang.

TMA kemudian menghadapi sebuah target yang sangat menantang: melakukan perubahan stack teknologi dalam waktu kurang dari satu bulan.

Migrasi dalam waktu singkat tentu memiliki risiko yang besar. Perubahan teknologi dapat menyebabkan perbedaan perilaku aplikasi, perubahan tampilan, masalah kompatibilitas, hingga potensi gangguan terhadap proses bisnis yang sedang berjalan.

Namun, dalam proyek ini terdapat satu prinsip yang menjadi perhatian utama: modernisasi teknologi tidak boleh membuat pengguna kehilangan pengalaman yang sudah mereka kenal.

Bagi pengguna, aplikasi bukan sekadar kumpulan kode dan teknologi. SWS3 sudah menjadi bagian dari rutinitas pekerjaan. Menu, navigasi, form, proses input, reporting, dan berbagai kebiasaan penggunaan telah terbentuk selama aplikasi digunakan.

Karena itu, TMA tidak mengambil pendekatan “membangun aplikasi baru dari nol” yang kemudian memaksa pengguna beradaptasi kembali. Pendekatan yang dipilih adalah modernisasi di balik layar dengan mempertahankan pengalaman pengguna semaksimal mungkin.

Teknologi yang digunakan adalah TeMA Platform, platform pengembangan yang dikembangkan TMA untuk membangun aplikasi enterprise modern dengan pendekatan yang lebih terstruktur, modular, dan scalable.

Pada sisi frontend, TMA menggunakan Next.js, sementara pada sisi backend digunakan Apiato sebagai fondasi pengembangan layanan aplikasi. Perubahan ini membawa SWS3 dari stack legacy menuju arsitektur aplikasi modern tanpa harus mengubah karakter utama aplikasi yang sudah dikenal oleh pengguna.

Secara konseptual, transformasinya dapat dilihat sebagai:

SWS3 Legacy → Modernization with TeMA Platform → Next.js + Apiato → Modern Enterprise Application

Tantangan terbesar justru berada pada proses migrasinya. Dalam waktu kurang dari satu bulan, tim harus memahami aplikasi existing, memahami proses bisnis, memetakan menu dan fungsi, melakukan pembangunan ulang pada stack baru, melakukan pengujian, serta memastikan hasil akhirnya tetap sesuai dengan kebutuhan operasional.

Pendekatan yang digunakan bukan sekadar melakukan translasi kode dari PHP lama ke teknologi baru. TMA melakukan proses reverse engineering dan functional mapping untuk memahami bagaimana aplikasi lama bekerja, bagaimana data diproses, bagaimana pengguna berinteraksi dengan aplikasi, serta bagaimana masing-masing fungsi berhubungan dengan proses settlement dan reporting.

Dengan cara tersebut, tim dapat memisahkan dua hal yang berbeda: apa yang harus dipertahankan karena merupakan kebutuhan bisnis, dan apa yang harus diubah karena merupakan keterbatasan teknologi lama.

Yang dipertahankan adalah business flow dan pengalaman pengguna. Yang dimodernisasi adalah fondasi teknologinya.

Prinsip tersebut sangat penting karena tujuan proyek bukan membuat aplikasi terlihat berbeda, melainkan membuat aplikasi menjadi lebih modern, maintainable, secure, dan siap dikembangkan, sementara pengguna tetap merasa familiar ketika menggunakannya.

Salah satu pendekatan yang digunakan adalah menjaga struktur navigasi dan pola interaksi aplikasi agar tetap dekat dengan versi sebelumnya. Dengan demikian, ketika pengguna membuka versi baru SWS3, perubahan teknologi di belakang layar tidak serta-merta menjadi perubahan besar dalam cara mereka bekerja.

Bagi TMA, pendekatan ini merupakan bentuk human-centered modernization: teknologi berubah, tetapi manusia yang menggunakan teknologi tersebut tidak harus mengalami perubahan yang drastis.

Di sisi engineering, penggunaan TeMA Platform juga memberikan keuntungan dalam standardisasi pengembangan. Dengan menggunakan Next.js pada frontend dan Apiato pada backend, aplikasi dapat dikembangkan dengan struktur yang lebih modern dibandingkan fondasi Zend Framework 1.12 dan PHP 5 sebelumnya.

Arsitektur baru juga memberikan ruang yang lebih baik untuk pengembangan berikutnya. Modernisasi bukan hanya bertujuan menyelesaikan masalah teknologi hari ini, tetapi juga menyiapkan aplikasi agar dapat dikembangkan mengikuti kebutuhan bisnis di masa mendatang.

Dalam proyek dengan waktu pengerjaan yang sangat singkat, disiplin terhadap scope menjadi sangat penting. TMA memfokuskan pekerjaan pada fungsi-fungsi yang benar-benar dibutuhkan agar operasional SWS3 tetap berjalan. Setiap fungsi dipetakan, dikembangkan, kemudian divalidasi untuk memastikan kesesuaian dengan aplikasi existing.

Pengujian juga menjadi bagian penting dalam proses migrasi. Karena aplikasi berhubungan dengan proses settlement dan reporting, validasi tidak cukup hanya memastikan bahwa halaman dapat dibuka. Data, proses bisnis, perhitungan, input, output, dan laporan harus diperiksa agar tidak terjadi perubahan yang dapat memengaruhi proses operasional.

Dengan demikian, proses migrasi tidak hanya menjadi technology migration, tetapi juga menjadi business continuity exercise.

Keberhasilan proyek ini tidak semata-mata diukur dari apakah aplikasi berhasil berjalan menggunakan Next.js dan Apiato. Ukuran keberhasilannya jauh lebih luas: apakah aplikasi dapat digunakan oleh pengguna sebagaimana sebelumnya, apakah proses settlement tetap berjalan, apakah reporting tetap tersedia, dan apakah perubahan teknologi dapat dilakukan tanpa mengganggu kegiatan operasional.

Inilah yang menjadi inti dari modernisasi SWS3.

Di satu sisi, TMA melakukan perubahan teknologi yang cukup fundamental. Zend Framework 1.12 dan PHP 5 sebagai teknologi legacy digantikan dengan stack modern melalui TeMA Platform, Next.js, dan Apiato.

Di sisi lain, dari sudut pandang pengguna, perubahan tersebut dibuat seminimal mungkin.

Teknologi di belakang berubah besar. Pengalaman di depan tetap familiar.

Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa modernisasi aplikasi enterprise tidak selalu harus identik dengan perubahan besar yang langsung terlihat oleh pengguna. Justru dalam sistem yang sudah menjadi bagian dari proses operasional, modernisasi yang baik adalah modernisasi yang mampu memperbaiki fondasi teknologi tanpa menciptakan gangguan yang tidak perlu.

Bagi TMA, proyek SWS3 menjadi salah satu pengalaman penting dalam menerapkan rapid application modernization dengan pendekatan TeMA Platform. Proyek ini menunjukkan bahwa migrasi dari teknologi legacy ke modern stack dapat dilakukan dalam waktu yang sangat terbatas apabila dilakukan dengan pemetaan fungsi yang tepat, fokus pada business continuity, disiplin terhadap scope, serta penggunaan platform pengembangan yang terstandarisasi.

SWS3 juga memperkuat prinsip yang menjadi bagian dari pendekatan TMA dalam membangun solusi enterprise: modernisasi bukan sekadar mengganti teknologi, tetapi memastikan teknologi baru memberikan kesinambungan bagi manusia dan proses bisnis yang menggunakannya.

Karena pada akhirnya, keberhasilan sebuah transformasi teknologi bukan hanya ketika kode lama berhasil digantikan dengan kode baru.

Keberhasilan yang sebenarnya adalah ketika pengguna dapat terus bekerja, proses bisnis tetap berjalan, risiko dapat dikendalikan, sementara organisasi memperoleh fondasi teknologi yang lebih baik untuk melangkah ke masa depan.

Modernize the technology. Preserve the business. Keep the experience human.